Puisi untuk Ibu


Ibu, terima kasih untuk kasih sayangmu
Walau pernah di suatu masa aku meragukan besarnya kasih sayangmu itu
Ibu, terima kasih untuk semua ketulusanmu
Walau pernah di suatu masa aku mengira kau punya pamrih
Ibu, terima kasih untuk mengajarkan aku hidup dengan segala pahit manisnya
Walau pernah di suatu masa aku mengira engkau tega

Terima kasih ibu, anakmu tak akan pernah mampu memberi seperti yang pernah engkau beri...
Relakan anakmu ini membalas semua itu ke cucumu ..


Puisi untuk hari ibu 22-12-2010
 

[+/-] Selengkapnya...

KU , AKU

Aku tak pernah memilih di mana aku akan dilahirkan, jam berapa, hari apa, tanggal berapa, bulan apa, tahun berapa, dan pada keluarga mana aku akan lahir . Aku hanya menjalani sebuah skenario besar kehidupan yang agaknya telah ditulis dengan penuh inspirasi oleh empunya alam semesta. Sebagai salah satu pemeran dalam skenario besar kehidupan tersebut, tentu dengan bangga aku akan melakoninya sebaik mungkin.

Beruntung aku di lahirkan di sebuah kota kecil yang damai, di sebuah rumah yang bagus untuk ukuran saat itu, di tepi pantai yang indah, di tengah keluarga yang tak tercela. Beruntungnya lagi, aku adalah anak pertama yang benar-benar dinanti, oleh ibu, ayah, datuk dan nenekku.

Dalam skenario besar itu tertulis bahwa aku dilahirkan pada jam 5 pagi, hari Selasa Wage, tanggal 15 bulan Februari tahun 1972. Datukku yang mantri kesehatan, assisten seorang dokter Belanda dengan bahagia telah menyiapkan nama buat aku, tentu nama yang kebelanda-belandaan. Alhasil inilah nama aku sekarang , plus nama pemberian ayah dan ibu yang bahagianya bukan main..Noni Hevianti, bukan Fransiska, Minten, Dropadi atau Mata Hari.

[+/-] Selengkapnya...

TRANSFORMATIONS

Bagian dari pohon cemara ini
Adalah yang akan dilihat cucuku setelah dia dewasa,
Berkembang di sini di akarnya:
Cabang ini mungkin istrinya,
Kehidupan manusia yang kemerahan
Kini berubah menjadi tunas hijau.
Rumput ini pasti terbuat
Dari dia yang sering berdoa
Di abad yang lalu, untuk beristirahat;
Dan gadis yang dulu jelita
Yang kucoba untuk mengenalnya
Mungkin memasuki kembang mawar ini.
Jadi, mereka tidak berada di bawah tanah,
Melainkan sebagai urat syaraf yang menyatu
Dalam pertumbuhan di udara terbuka,
Dan mereka merasakan sinar matahari dan hujan,
dan energi sekali lagi
Yang menjadikan mereka seperti adanya dahulu !


by: Thomas Hardy

[+/-] Selengkapnya...

MINTEN DEUUHH MINTENN....

Kisah Juminten, itulah yang saya mau angkat. Seorang single parents untuk 5 orang anak, dua kali gagal menikah. Perkawinan pertama kandas karena suami yang memberinya lima orang anak ini, berselingkuh dengan pembantu mereka. Sedangkan perkawinan kedua gagal karena perilaku suami yang berangasan saat berhubungan sex.
Perkawinan kedua adalah perkawinan yang paling menyebalkan bagi Juminten. Mantan suami keduanya ini adalah orang yang dihormati karena profesinya. Sejatinya profesi sang suami sangat mulia, tapi ternyata profesi yang mulia tidak menjamin perilakunya juga mulia.

Hampir setiap berhubungan, suami memaksa melakukan anal sex. Tentu saja Juminten menolak setengah mati, tetapi sang suami terus saja memaksakan kehendaknya. Belum genap setahun akhirnya Juminten menggugat cerai suami keduanya, karena tak tahan atas perilaku suaminya yang juga kerap memukul hingga babak belur. Sang mantan suamipun sempat mencicipi nikmatnya penjara selama seminggu setelah Juminten membuat pengaduan ke RPK.

Penolakan sex tentu pernah dilakukan Juminten, dengan alasan dia tidak menghendaki anal sex dan pada saat dia menderita infeksi rahim. Balasannya adalah kata-kata kasar, sms kasar, dipukuli bahkan diseret paksa dan juga perselingkuhan suami.

Semua itu dijawab lagi oleh Juminten dengan hukum. Saat ini sudah ada UUPKDRT, Kepolisian dan Women's Crisis Center yang siap memberikan pendampingan dan perlindungan bagi perempuan yang menjadi korban.

Istri tunduk pada suami, rasanya tidaklah tepat. Yang tepat adalah suami istri seharusnya saling menghargai. Saya sadar bahwa sebelum menikah, seorang perempuan harus diajarkan mengenai hak-hak hidupnya. Baik sebagai istri, sebagai ibu, dan sebagai perempuan. Intinya, perempuan adalah manusia!Bukan manusia peliharaan atau hak milik!
Jadi, mengapa perempuan harus takut menegakkan haknya???

[+/-] Selengkapnya...

"Ai... je t'aime...! je suis a toi...!"

Anda mengerti arti kalimat di atas??? Well...bagus deh kalau anda mengerti...karena gak setiap orang akan mengerti kata-kata di atas...Saya juga tidak berniat menjelaskan maknanya, ini hanya meniru-niru kebiasaan masyarakat kita saat ini...menggunakan istilah-istilah "high class"..jadi silahkan cari sendiri artinya.

ow yaa...katanya semakin sulit orang lain paham dengan istilah-istilah yang kita gunakan, maka semakin tinggi tingkat intelektualitas kita...Ironis...Padahal bila kita benar-benar cerdas tentu kita menginginkan ide yang kita sampaikan akan dipahami semua orang, baik yang membaca maupun yang mendengarnya.

Saya tidak bisa menyalahkan pihak-pihak terkait tersebut, mereka adalah anak zamannya sendiri. Saat ini penggunaan istilah asing mungkin dirasa lebih sophisticated dibanding istilah asli bahasa Indonesia.
Cuma mengingatkan saja jangan sampai kita tejebak dengan penggunaan istilah-istilah yang sebetulnya kita tidak ketahui.

[+/-] Selengkapnya...

"Hanya" soal Tempat Duduk

Saya dan tiga teman berkumpul di sebuah rumah makan. Hari menunjukkan pukul satu siang. Ketika semua orang bekerja, kami bersenda gurau sambil menikmati suasana. Dan ketika ada telepon masuk menanyakan keberadaan saya, saya menjelaskan yang mengundang jawaban: ”Enak benuer sih….”

lanjut....

[+/-] Selengkapnya...

Dropadi... Oh... Dropa di

Saya bukan ahli pewayangan, sama sekali tidak. Pernah sekali waktu saya menulis tentang tokoh pewayangan yang diasumsikan jahat, seorang teman mengirim SMS dan mengatakan saya mesti lebih banyak membaca tentang pewayangan. Saya tidak mengerti maksud nasihat itu. Apa artikel itu salah, apa kurang dalam, sama sekali saya tak tahu.

[+/-] Selengkapnya...

Bukan Siapa dan Bukan Biasa

Saya sedang membaca sebuah profil pebisnis muda yang sukses di sebuah majalah. ”Saya bukan siapa-siapa. Berasal dari sebuah desa kecil di kota Sragen. Nyaris SMA pun tak lulus karena keterbatasan dana dan sebagainya. Tetapi beruntung saya lahir dari keluarga yang berlimpah kasih sayang.”


Saya sangat tertarik sekali dengan kalimat bukan siapa-siapanya itu. Saya tak tahu, apakah kalimat itu bernada rendah hati, rendah diri, tak percaya diri, atau lainnya. Satu hari sebelum saya membaca profil pebisnis itu, saya makan siang bersama seorang teman lama. Ia mulai mengeluh karena pasangan hidupnya yang sudah berusia 43 tahun itu kehilangan kepercayaan diri karena tidak sekaya teman-teman pergaulannya.

Gara-gara itu, sudah lama suami teman lama saya itu mengundurkan diri dari lingkup pergaulannya dan enggan bertemu dengan orang lain, terutama kalau berhadapan dengan mereka yang sukses di usia muda.

Panik

Saya mengalami perasaan seperti kasus kedua di atas, terutama saat menjelang setengah abad seperti sekarang ini. Apalagi mengetahui dan melihat langsung bermunculannya pengusaha muda di usia tiga puluh tahun, yang sudah memiliki bisnis segala rupa. Dari pengeboran minyak sampai batu bara. Tanpa melupakan yang memiliki stasiun tivi, bahkan bisa membeli perusahaan asing.

Di usia lima puluh kurang tiga tahun, saya cuma punya rumah tinggal seluas enam puluh meter persegi, mobilnya bernama taksi, bisnisnya juga batu. Batu apung, maksudnya. Nurani saya berteriak. ”Usahanya minyak juga, bukan? Minyak jelantah, maksudnya.” Tivi juga punya. Tivi kabel, gitu loh.

Melihat itu semua, saya jadi frustrasi, dan seperti pebisnis muda di atas, saya berucap berkali-kali saya ini kok cuma biasa-biasa saja. Kemudian, pertanyaan segera muncul. Seperti biasa. Jadi, kalau bukan siapa-siapa, yang siapa-siapa itu seperti apa? Kalau biasa-biasa saja, maka yang bukan biasa itu seperti apa?

Sang pebisnis muda asal Sragen di atas mengatakan bahwa ia nyaris tak lulus SMA. Membaca itu saya jadi tertawa dan teringat akan keinginan saya untuk malah tidak bersekolah sama sekali. Buat saya sekolah itu kok yaa… buang waktu saja. Mengapa harus ke sekolah kalau bisa belajar di rumah? Apakah saya kemudian menjadi bukan siapa-siapa kalau tak lulus dari sekolah favorit? Sekolah anak pejabat?

Tetapi begitulah ”hukuman” yang diberikan kehidupan ini. Yang itu bukan siapa-siapa, yang ini siapa-siapa. Yang gitu luar biasa, yang gini biasa-biasa. Mungkin gara-gara itu, banyak manusia merasa cari pasangan hidup itu harus yang koaya roaya, berdarah biru, yang menyejahterakan lahir meski acap kali menghancurkan batin. Karena buat kehidupan, yang mentereng lebih meyakinkan. Mau ambruk setelah itu? Itu urusan belakang.

Berusaha tidak panik

Maka, setelah membaca profil pebisnis muda itu, saya mendapat sebuah tenaga baru untuk berhenti berpikir bahwa saya ini biasa-biasa saja, bahwa saya bukan siapa-siapa. Kalau banyak orang lahir di kota besar, yaa… kota kecil menjadi luar biasa. Seperti cabe rawit. Kecil, tetapi mampu membuat orang nyap-nyapan.

Kalau saya tidak lulus SMA, itu bukan hal yang biasa-biasa. Yang lain lulus, saya putus, itu luar biasa. Apalagi sudah putus sekolah, malah jadi pebisnis dan mengalahkan yang lulus dan menjadi siapa-siapa.

Saya akan melatih melarang otak saya berpikir, kalau saya ini biasa dan bukan siapa-siapa. Hanya karena tidak kaya dan bukan turunan ningrat, atau bukan anak pemilik sejuta perusahaan. Bahwa bisa menjadi tidak kaya di tengah orang superkaya, dan bertahan untuk tidak tergoda menjadi kaya dan tak tergoda menjadi siapa-siapa, dalam jalan yang tidak benar, itu luar biasa.

Saya pikir lagi, saat Sang Pencipta mengizinkan saya lahir di dunia ini, Ia tidak melakukannya dengan cara yang biasa-biasa saja. Setiap manusia diberikan keunikan. Masalahnya, kok yaaa… manusianya yang sama-sama hanya merupakan hasil ciptaan malah melakukan perbandingan nilai.

Beberapa tahun lalu, saya mendatangi ayah. Tentu sebelum ia berpredikat almarhum. Saya bilang padanya, seharusnya ia bangga punya tiga anak. Satu anak perempuan, satu anak laki, dan satu laki keperempuanan yang meliuk seperti cacing. Sesuatu yang bukan biasa-biasa saja. Karena tetangga dan orang lain cuma bisa punya anak laki dan perempuan.

Kalau seandainya ayah saya diwawancarai oleh majalah yang mewawancarai pebisnis muda itu, apakah ia akan merasa bahwa ia biasa-biasa saja, luar biasa atau merasa bukan siapa-siapa karena selain bukan keturunan ningrat, ia punya anak ”cacingan”? Karena ayah saya sudah almarhum, jadi saya tak bisa mendapatkan jawabannya. Bagaimana kalau saya saja yang menanyakan Anda, kalau seandainya Anda jadi ayah saya?

[+/-] Selengkapnya...

Design by Blogger Templates